Jalan Panjang dan Berliku Menuju Sawit Berkelanjutan

Source: CIFOR News

Jika berbicara soal minyak sawit, selalu terjadi kontroversial. Ada yang mencintainya dan membencinya, atau mungkin tanpa sadar telah menggunakannya. Meskipun begitu, kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunan sawit ini dapat menghasilkan keuntungan besar, sehingga banyak hutan dikonversi menjadi perkebunan sawit.

Minyak sawit sendiri digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit ini juga sering digunakan untuk bermacam-macam bahan baku, karena keunggulan sifatnya yang tahan oksidasi dengan tekanan tinggi dan mampu melarutkan bahan kimia yang tidak dapat larut oleh bahan pelarut lainnya. Sawit sering disebut sebagai pemberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional, serta pengurangan kemiskinan.

Terlepas dari bermacam-macam kegunaan minyak sawit, ternyata bisnis minyak sawit bernilai miliaran dolar AS ini merupakan argoindustri yang paling menuai kontroversial di dunia. Bahkan, ada bukti yang menunjukkan bahwa produksi minyak sawit ini memberi dampak kontradiktif.

Beberapa permasalah akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit, yaitu:

  1. Konflik lahan antara penduduk desa dengan perusahaan dan pendatang.
  2. Perbedaan hasil panen petani mandiri dengan perkebunan industri.
  3. Hutang besar karbon akibat ekspansi sawit pada lahan hutan dan gambut.

Tantangan dalam mengatasi konflik isu performa industri sawit ini adalah menemukan jalan untuk menjaga rantai pasokan kelapa sawit, dalam mendukung manfaat ekonomi dan konservasi serta aksi iklim.

MEMBUAT PERUBAHAN

Pemerintah, perusahaan dan organisasi masyarakat sipil telah melakukan upaya dalam meningkatkan performa sektor sawit. Di Indonesia, pemerintah sebelumnya melakukan langkah penting untuk merespon agenda iklim global melalui izin baru atas hutan primer atau lahan gambut.

Indonesian Palm Oil Pledge/IPOP merupakan salah satu upaya memperkuat kebijakan dan regulasi sawit lestari. Anggota IPOP berkomitmen memperluas manfaat sosial melalui peningkatan produktivitas petani sawit, sehingga memperkuat daya saing sawit di Indonesia.

Di sisi lain, berbagai upaya juga dilakukan untuk menyempurnakan standar wajib sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang disertai oleh regulasi untuk intervensi dan restorasi di lahan gambut.

ISPO bertujuan memastikan diterapkannya peraturan perundang-undangan terkait perkebunan kelapa sawit. Upaya lain yang dilakukan ISPO, yaitu menjaga performa ekonomi sektor sawit dilakukan dengan mengembangkan pasar biodiesel domestik.

Resolusi Uni Eropa menyepakati perlunya pendekatan yang lebih ketat pada impor sawit. Pendapat ini tidak lantas langsung disepakati oleh pemerintah. Mereka lebih menekankan pentingnya bergantung pada regulasi nasional.

Tata kelola sawit makin kompleks seiring dengan berjalannya waktu. Selain regulasi nasional, tata kelola sawit melibatkan cara transnasional dalam bentuk standar RSPO. Inisiatif Sawit Berkelanjutan Eropa (ESPO), mendorong RSPO sebagai cara untuk menjamin berjalannya praktik regulasi transnasional tersebut.

Tetapi, seperti dijelaskan sebelumya, pemerintah Indonesia telah melangkah untuk mewujudkan misi memperkuat ISPO, yang awalnya hanyalah kumpulan regulasi sawit yang telah ada dan digabungkan menjadi satu.

TANTANGAN UNTUK MELIBATKAN PETANI

Dalam menjalankan proses ini, banyak petani sawit mandiri yang terancam terisolasi dari pasar formal, karena kurangnya sumber daya untuk memenuhi standar keberlanjutan pemerintah dan swasta. Oleh karena itu, diperlukan cara agar petani dapat memahami akses jasa finansial dan teknis, sehingga mereka tetap bisa bertahan di pasar formal.

Penelitian yang dilakukan di Riau, Kalimantan Tengah dan Barat, menunjukkan bahwa tantangan keberlanjutan, legalitas dan produktivitas muncul saat petani sawit mandiri melakukan ekspansi. Tetapi, penting untuk dipahami bahwa siapa petani sesungguhnya. Ada ekspansi yang sering dilakukan oleh petani besar, mahalan petani dari luar provinsi tidak hadir di lapangan.

Untuk masalah legalitias tenurial yang dihadapi oleh petani kecil, yang mengelola sawit berhadapan dengan tantangan yang paling signifikan. Ada perdebatan mengenai bagaimana mengatasi ilegalitas dan menyalurkan sumber daya finansial serta dukungan, bukan hanya sekedar mengatur sawit, tetapi juga meningkatkan performa petani.

News Reporter